Gunung Guntur si Cantik tapi 'Nyebelin'



Hallo lebaran kemarin pada kemana nih? Sibuk mudik apa sibuk tidur? Hehehehehe.
Di kesempatan ini saya akan berbagi cerita dan pengalaman saya selama pendakian Gunung Guntur. Sekedar info bahwa Gunung Guntur ini berada di daerah Sirnajaya, Tarogong Kaler, Garut dengan ketinggian 2.249 mdpl, meski ada beberapa jalur pendakian yang bisa diakses para pendaki, tetapi jalur pendakian paling populer adalah via Citiis salah satu alasannya adalah mudah dilalui oleh kendaraan.

Gunung ini terbilang pendek dibandingkan gunung-gunung lain, namun memiliki keunikan tersndiri yang mampu menarik minat para pendaki untuk menjajal treknya yang katanya 'nyebelin'. Salah satu keunikan Gunung Guntur ini adalah puncaknya yang berwarna kecoklatan bila dilihat dari jarak jauh, hal ini disebabkan karena jarangnya pepohonan yang tumbuh di area puncak dan tekstur tanahnya yang berpasir serta berkerikil.

Jujur, ini adalah pendakian pertama saya, karena masih newbie jadi saya ikut open trip. Meski open trip peralatan outdoor saya cukup lengkap sehingga barang bawaan saya lumayan berat. 1 carrier berisi semua kebutuhan saya dan suami karena saya hanya membawa backpack, alhasil suami saya yang juga msih newbie kewalahan mengangkat beban yang diperkirakan mencapai 20 kg, untung saja kawan-kawan seperjalanan kami baik hati dan tidak sombong, jadi mereka dengan senang hati membawakan carrier suami saya secara bergantian, maaf ya kita merepotkan sekali kemarin.

Sebelum mencapai basecamp Gunung Guntur, rombongan kami sempat mengalami insiden kecil. Mobil kami dengan tidak sengaja memasuki area hutan sekitar pukul 4 pagi, ditambah ban mobil belakang yang kami tumpangi pecah sehingga harus diperbaiki terlebih dahulu. Itu pengalaman yang menarik bagi saya, karena di tempat itulah pertama kali saya salat di tengah hutan hehehehe.

Akhirnya kami sampai di basecamp sekitar pukul 6 pagi, saya langsung membersihkan wajah dan menggosok gigi di toilet umum karena untuk mandi butuh nyali ekstra. Setelah itu sambil menunggu sarapan datang, saya duduk-duduk santai sambil menghirup udara pagi diiringi lelucon kawan-kawan yang mengocok perut saya.


Pendakian dimulai sekitar pukul 8 pagi, meski foto diatas terlihat mendung tetapi aslinya cukup panas dan membuat saya dehidrasi lebih cepat. Baru beberapa langkah saja rasanya dada saya sudah sesak mungkin karena saya ada riwayat paru-paru, bahkan sempat tersirat di pikiran saya "Bisa gak ya sampai puncak?" dan "Gimana kalo saya mati disini?". Malu kalau saya harus jujur, tapi bahaya juga kalau saya tutup-tutupi. Tetapi ebelum saya sempat mengaku dada saya sesak, suami malah saya malah menghentikan langkah karena kewalahan membawa carrier, setelah dibongkar ternyata yang memberatkan adalah air, jadilah air-air kita dibagi dengan tim, carrier suami dibawa oleh ketua rombongan dan backpack saya dibawa suami, alhasil saya tidak membawa apa-apa kecuali trekking pole. 


Meski tidak membawa beban saya termasuk orang yang boros air, perjalanan dari basecamp sampai pos satu (dengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam) saya sudah menghabiskan 2 liter air. Karena bagi saya air adala pelarian ketika saya merasa lelah atau ketika napas saya mulai tersengal-sengal. Di saat break, saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan, saat break saya harus duduk dan mengatur napas agar bisa melanjutkan perjalanan, dan jangan lupa minum.



Pos 1

Setelah berjam-jam berjalan di bawah terik matahari, akhirnya kami masuk juga di zona rimba yang sama artinya kami sudah sampai di pos 1. Karena ini zona rimba, udaranya sangat sejuk dan suara gemericik air menambah keindahan alamnya. Di pos satu ini juga kami bisa duduk-duduk santai, ada juga warung yang menyediakan berbagai macam jajanan yang bisa mengganjal perut. Jika ingin buang air, di pos satu ini ada toilet (baca: jamban) yang bisa kita gunakan. Gunung Guntur ini airnya cukup melimpah, tapi hanya dari pos 1 sampai pos 3 saja atau area camp.





Setelah duduk sejenak, saya dan tim kembali melanjutkan perjalanan, pakaian yang saya kenakan basah akibat keringat, dan ketika memasuki zona rimba dan udaranya yang sejuk keringat saya malah berubah jadi dingin. Kata ketua rombongan saya, pos 2 tidak ada jadi langsung menuju pos 3. Nah disinilah trek yang paling menyebalkan bagi saya, yaitu memanjat batu-batu besar nan terjal sampai kaki dan tangan saya lemas. Benar kata mereka bahwa Gunung Guntur adalah gunung yang "Dekat di Mata Lemas di Kaki"

Sayangnya di trek bebatuan ini saya tidak sempat mengambil gambar, mungkin saking lemasnya sehingga saya tidak mood berfoto-foto ria, jadi biar Kamu juga penasaran hehehhe, lagi pula saat waktunya break saya hanya sibuk minum atau mengatur nafas jadi tidak sempat mengambil gambar. Setelah hampir satu jam merangkak-rangkak, memanjat dan bergelantungan ( bohong lebay, serius amat bacanya) akhirnya kita keluar dari zona rimba dan kembali berjalan di bawah terik matahari. Saat berjalan saya tidak terlalu fokus mengamati keadaan sekitar, saya tidak tahu benda apa saja yang saya temui, saya tidak tahu tanaman apa saja yang saya lewati karena yang ada di pikiran saya adalah "kapan sampai?"

Pos 3


Dan saat paling membahagiakan adalah ketika saya sampai di pos 3, udara sejuk langsung menyambut saya yang kepanasan. Ditambah air nya yang sejuk dan menyegarkan, kalau saya bilang air disana rasanya seperti "Galon Bapak" karena bapak mertua saya punya dispenser yang ada pendinginnya (katrok kan? heheheh).

Disini pula saya merasa bersedih karena tidak ada warung dan toilet, sumber air memang dekat tapi untuk memenuhi pengeluaran saya sebagai seorang manusia mau tidak mau zat-zat yang tidak berguna dari tubuh saya harus dikeluarkan di antara semak-semak belukar dan terkadang harus bertemu dengan zat-zat tidak berguna milik orang lain dan itu mengerikan, karena ini pertama kali saya merasakan kehidupan alam liar. Dari tempat kami mendirikan tenda ke sumber air berjarak sekitar 250-300 meter cukup jauh ditambah saya harus menuruni banyak turunan, jadi untuk sekali buang air atau mengambil air cukup membuat dengkul saya sakit.






Tempat saya dan tim mendirikan tenda posisi tanahnya cukup miring dengan tekstur tanahnya berbatu dan berpasir, disini kita sudah mulai rawan terpeleset jadi harus ekstra hati-hati saat berjalan. Karena disekitar kami jarang ada pepohonan, di siang hari rasanya panas sekali, jika di musim penghujan rawan terkena sambaran petir. Meski begitu viewnya keren banget, saya bisa lihat pemandangan kota Garut dari ketinggian.


Pemandangan kota Garut akan jauh lebih indah saat malam hari, karena seolah-olah kita melihat bintang ada di atas langit dan di bawah gunung karena kilauan lampu-lampu bangunan, lampu-lampu jalan, dan lampu-lampu lainnya. Pemandangan ini bisa dinikmati bersama secangkir teh, kopi atau coklat panas untuk sekedar menghangatkan tubuh (itu sih bagi yang jomblo ya).



Saya pikir di puncak treknya lebih mudah, karena dari tempat saya nge-camp tidak jauh seperti bukit-bukit yang biasa saya jumpai saat melalui jalan tol hehehehe. tapi faktanya jauh lebih sulit, istilahnya naik 5 langkah, turun 2 langkah. kerikil dan pasir menghambat langkah saya dan tim, jadi kami harus pintar-pintar memilih pijakan. Katanya sih Gunung Guntur itu miniaturnya Gunung Semeru.

Kami mulai summit pukul 4 pagi, udara yang cukup dingin mengganggu pernapasan saya, dada yang sesak dan udara dingin berhasil membuat saya semakin kesulitan, sehingga saya lebih sering berhenti hanya untuk mengambil napas panjang dan minum air. terbesit dalam pikiran saya untuk menyerah, tapi itu pantangan buat saya.  Akhirnya setelah berjam-jam kami berjalan dan tentunya penuh perjuangan, akhirnya kami sampai di tempat dimana kita harus merangkak-rangkak sampai puncak.


Kelelahan saya dan tim akhirnya terbayar ketika sang surya mulai muncul dan menampakkan sinarnya, gumpalan-gumpalan awal membentuk seperti ombak, cantik sekali. saya pun menyempatkan diri untuk duduk santai menikmati lukisan alam, dan mengabadikan momen dalam beberapa jepretan gambar.


Ada kebanggan tersendiri saat saya bisa bisa mencapai titik ini, saat kami sedang duduk-duduk suami saya bilang "Kemarin kita ada di ketinggian karena naik pesawat, sekarang kita di ketinggian karena naik gunung, makasih ya udah bawa saya ke tempat ini"
Seketika ituu pula hati saya luluh, hehehehe.
Selonjoran dulu 

Taraaaaaa akhirnya saya bisa sampai puncak, baru sampai puncak satu ya belum puncak-puncak yang lain. Di belakang saya ada puncak dua dan alhamdulillah juga saya bisa menginjakkan kaki disana meski persediaan makanan dan minuman sudah habis, jadi saya belum bisa mencapai puncak 3. Sensasi yang tidak bisa saya lupakan saat di puncak adalah awannya yang seperti kabut berterbangan menerpa wajah saya, rasanya sejuk meski terik matahari tak mau kalah.




Perkenalkan ini kita, Nyeok adventure dari Karawang

Ekspresi lelah saat turun gunung.


Jika Kamu ingin mencoba sensasi mendaki Gunung Guntur, jangan lupa membawa gaiter dan trekking pole karena tekstur tanahnya yang berkerikil dan berpasir, gaiter untuk melindungi kerikil masuk ke dalam sepatu dan melukai kaki, sedangkan trekking pole membantu menahan tubuh kita agar tidak jatuh saat naik atau turun gunung. Trek disini cukup ganas, karena saya banyak menemukan sol sepatu terbuang begitu saja, ada pula teman seperjalanan saya sepatunya jebol saat summit. Oh ya, karena sumber air hanya sampai pos 3, sebaiknya saat summit membawa air dan makanan yang cukup.   

Oke, sekian catatan saya kali ini, mohon maaf bila ada kekurangan. Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.








You May Also Like

0 komentar