Traveler yang Menderita Tachophobia



Tachophobia



Halo Teman-Teman, apa kabar?

Sebentar lagi libur akhir tahun nih, sudah merencanakan destinasi tujuan? Jika belum, yuk buruan rencanakan liburanmu dengan matang dan segera booking (mumpung sedang banyak promo hihihi).


Oh ya membahas tentang liburan, perjalanan, dan destinasi wisata pasti yang terlintas di pikiran kita adalah semuanya tentang kesenangan, betul?


Padahal sama sekali tidak, meski memang traveling itu menyenangkan, ada beberapa hal di mana kita tidak suka dengan perjalanan kita. Terkait hal-hal yang tidak disukai itu kembali kepada pribadi masing-masing ya. Nah, jika saya pribadi, saya paling tidak suka ketika dalam sebuah perjalanan Tachophobia saya kambuh.


Apa sih Tachophobia itu?

Tachophobia adalah rasa takut terhadap kecepatan, biasanya seseorang yang menderita Tachophobia akan mengalami beberapa gejala seperti panik, jantung berdebar, sakit perut dan lain sebagainya.


Bagi saya yang juga menderita Tachophobia, hal itu sangat tidak menyenangkan. Jika boleh memilih, antara Tachophobia dan mabuk perjalanan, maka tanpa pikir panjang saya akan memilih mabuk perjalanan. Mengapa? Mabuk perjalanan bisa diatasi dengan makanan yang menghangatkan perut, minyak angin, atau kalaupun saya harus (maaf) muntah, sekali muntah saja rasanya perut sudah plong. Berbeda dengan Tachophobia, jika saya dalam sekali jalan saya menempuh perjalanan selama 10 jam, maka bisa jadi saya mengalami kepanikan dalam waktu yang cukup lama.


Naik kendaraan dengan kecepatan di atas 50 km/jam saja rasanya sudah seperti naik roller coaster, saya akan mengalami kepanikan luar biasa. Saya mengalami Tachophobia sejak usia kira-kira 3 tahunan, ketika Tachophobia saya kambuh, otomatis saya akan menangis histeris. Berbeda dengan sekarang, saya akan sangat malu jika saya menangis dalam kendaraan apalagi sampai berteriak-teriak.


Saya mengalami hal memalukan saat Januari lalu naik pesawat, jujur saja itu pengalaman pertama saya. Saat take off, saya kaget luar biasa, sontak saja mengucapkan istighfar berkali-kali. Terbang pertama saya selama 2 jam dari Jakarta menuju Kuala Lumpur itu sangat tidak nyaman, mengingat saya takut sekali akan kecepatan terlebih saat terbang pesawat naik-turun berulang kali, membuat jantung saya seperti dipermainkan. Mulut saya tidak berhenti beristighfar, tangan saya terus memeluk kursi penumpang di depan saya. Itu memalukan, sangat memalukan.


Sampai Kuala Lumpur, tangan dan kaki saya gemetar hebat, jantung saya berdebar dan akhirnya saya menangis sejadi-jadinya. Ke Kuala Lumpur sebenarnya hanya sekadar transit, jadi saya harus naik pesawat lagi dengan durasi terbang yang lebih lama. Saya sepertinya kapok naik pesawat karena pengalaman terbang yang kurang menyenangkan. Bagaimana ini? Melanjutkan perjalanan harus naik pesawat, pulang ke Tanah Air pun naik pesawat. Akhirnya saya naik pesawat lagi untuk melanjutkan perjalanan, namun terbang selanjutnya lebih menyenangkan, horrayyy.


Untuk mengantisipasi terjadinya Tachophobia biasanya saya meminum obat anti mabuk perjalanan, agar saya bisa tidur dan tidak merasa panik. Meski Tachophobia membuat perjalanan saya jadi buruk, tapi apakah saya kapok? Oh tentu tidak, pengalaman buruk dari sebuah perjalanan hanya hal kecil dibanding pelajaran yang bisa saya ambil, jauh lebih kecil jika dibanding pengalaman baiknya. Tachophobia tidak menghalangi saya untuk terus menjelajahi tiap sudut bumi.


Buat Kamu yang menderita Tachophobia tapi suka traveling juga seperti saya, Kamu tak perlu takut. Keep calm! Sepanik apapun, tarik nafas dalam-dalam, pegang erat orang terdekatmu (bagi penderita Tachophobia sebaiknya jangan traveling sendirian. Bawalah kerabat, keluarga, atau pasangan. Biar saat Kamu panik, ia bisa menenangkanmu)


Keep exploring guys.


Semoga bermanfaat!


You May Also Like

2 komentar