Pertama Kali Mencoba Sate Kelinci


Sate Kelinci

Libur Lebaran kemarin saya berkunjung ke Bandung, kebetulan saya pulang ke Karawang lewat jalur Subang, otomatis saya melewati kawasan kebun teh di daerah Ciater. Selain hamparan kebun teh yang membentang, sepanjang perjalanan saya bisa melihat banyaknya rumah makan lesehan yang menyajikan berbagai menu makanan. Karena perut lapar dan kedinginan karena hujan, saya pun memutuskan untuk makan. Tapi saya penasaran dengan menu yang anti-mainstream di sana, di antaranya adalah sate biawak, sate kuda, dan sate kelinci. Untuk mencoba sate kuda saya belum berani, apa lagi sate biawak, teralalu ekstrem.

"Sate kelinci, boleh juga..." Tanpa basa-basi saya langsung berhenti di salah satu tempat makan pinggir jalan di Daerah Ciater, saya memesan satu porsi sate kelinci lengkap dengan nasinya (saya orang Sunda yang tidak bisa lepas dari nasi, hehehehe).

Baca Juga: Lemang Batok dan Kue Kacang Oleh-Oleh Khas Tebing Tinggi


kuliner


Sambil menunggu pesanan saya datang, saya tidak melewatkan untuk menikmati pemandangan sekitar. Hamparan kebun teh yang luas, gemericik hujan, ditambah segelas teh tawar hangat menemani saya sore itu.


sate kelinci



Setelah menunggu sekitar setengah jam, pesanan saya pun datang. Oke tanpa perlu basa-basi lagi, saya akan bahas tentang rasa dari sate kelinci ini. Gigitan pertama, rasanya tidak ada yang aneh persis seperti sate ayam, saya mengira-ngira jika sebelum dibakar sate kelinci ini  direbus terlebih dahulu. Namun setelah saya makan sate yang ke sekian tusuk, rasanya mulai 'aneh' menurut saya. Sulit untuk dijelaskan, tapi intinya daging kelinci ternyata lebih amis dibanding ayam atau sapi sehingga meninggalkan rasa 'enek'. Ini hanya penilaian subjektif dari saya, mengingat selera setiap orang berbeda, mungkin di antara teman-teman pembaca blog saya ada yang sangat menyukai sate kelinci. Saya juga tidak tahu amis dari sate ini karena dagingnya atau dari proses memasaknya yang kurang matang. Meski rasanya tak sesuai ekspektasi, tapi setidaknya saya tidak lagi penasaran dengan rasa sate ini. Oh ya, sekadar informasi jika seporsi sate kelinci yang saya beli berisi 10 tusuk dengan dihargai Rp.45.000,- tidak termasuk nasi, mahal atau murah?

Nah itulah review jujur saya tentang sate kelinci, semoga bermanfaat!

Baca Juga: 5 Oleh-Oleh Khas Medan yang Terkenal

You May Also Like

9 komentar

  1. Waaah sate kelinci bisa juga neh dicoba jika ke bandung

    BalasHapus
  2. Waduh pemandangannya bikin salah fokus, adem banget keliatannya. Abis makan sate kelinci pasti foto foto ya mba? Hehehe.

    BalasHapus
  3. Enggak mas, saya langsung pulang. Sudah kusam muka saya😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah, ya foto pemandangannya saja mba hehehe.

      Hapus
  4. enak kayaknya ya mbak sate kelinci, saya belum pernah sebelumnya.....

    salam blogwalking
    mediaweb4u

    BalasHapus
  5. Saya suka sate kelinci Teh, apalagi sambil makan lihat view kebun teh yg indah...
    Kalau sate kuda dan biawak belum pernah nyicip, jadi penasaran nih gimana rasanya

    BalasHapus
  6. Wahhh jadi pengen nyoba sate kelinci juga. Di Kediri disini juga ada tapi nggak ada pemandangan kebun tehnya.

    BalasHapus